Sibuk katanya.
Antara [sibuk] dan [bukan prioritas].
Dua hal yang berbeda tapi kadang saling di kaitkan menjadi sebuah alasan penyamar ketidakpedulian. Seringkali di manfaatkan untuk ungkapkan rasa ingin menjauh dan hidup tanpa gangguan. Hingga perasaan tak ingin terlihat dan seakan menghilang, padahal hanya terpisah satu kata penyamar kebohongan.
Mungkin kata bohong terlalu kasar jika di hubungkan dengan perasaan apalagi tentang perhatian dan kepedulian. Semua ini bukan hanya sekadar sapaan hai ataupun tentang bertanya sudah makan?. Ini tentang sebuah respek dan mendengar sesuatu yang sejatinya terdengar walau tidak gamblang di ucapkan.
Bukan haus akan perhatian, tapi penilaian tentang siapa siapa yang datang ketika membutuhkan atau yang sering menemani walau hanya untuk lakukan kegilaan yang menggembirakan.
Sejatinya manusia dalam keadaan tak punya masalah pun ingin di beri solusi. Sejatinya manusia tak sedang nakal pun ingin di nasehati. Sejatinya manusia walau tak sendiri pun ingin di temani. Sejatinya manusia pasti ingin punya teman berbagi walau tak dalam keadaan bersedih diri.
Ini bukan kisah. Hanya saja sedang terfikir tentang beberapa fenomena pemisah hanya karena alasan kesibukan, yang normalnya, menyapa dan bertanya kabar itu tak akan memangkas waktu berjam jam apalagi sampai mengahabiskan waktu seharian. Ya jika kau bilang itu tergantung, setidaknya selalu ingat untuk tidak berlebihan.
Comments
Post a Comment